WEBINAR KURIKULUM MERDEKA

Kurikulum Merdeka adalah opsi kepada satuan pendidikan dalam rangka memulihkan pembelajaran dari dampak pandemi. Saat ini Tim Pengembang telah melakukan revisi 4 standar: Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian agar relevan dengan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka.


Webinar Kurikulum Merdeka untuk internal Sekolah Umum YPS dibawakan langsung oleh Koordinator Pengembangan Kurikulum Pusat Kurikulum Kemdikbud Ristek, Dr. Yogi Anggraena, diikuti secara daring oleh seluruh Guru dan Pegawai Sekum YPS dari tingkatan TK, SD, SMP, hingga SMA dalam wadah School Development Program Sekum YPS (7/3/2022). 


“Akibat pandemi, rata-rata terukur bahwa siswa mengalami ketertinggalan 6 bulan pembelajaran. Sebagai mitigasi, agar fokus kepada satuan pendidikan untuk memulihkan keadaan, kita perlu inovasi-inovasi sehingga strategi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhannya,” papar Dr. Yogi Anggraena. Opsi tersebut adalah memberikan kewenangan bagi satuan pendidikan untuk memilih menggunakan Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan), atau Kurikulum  Merdeka.


Kurikulum Merdeka sudah 6 bulan ini diimplementasikan secara terbatas di sekolah-sekolah penggerak. Pada tahun 2022 ini, dipersilahkan kepada sekolah manapun yang ingin menerapkan tanpa melakukan seleksi. Kurikulum Merdeka akan diterapkan di kelas awal, yaitu di TK B, Kelas 1 & 4, kelas 7 dan kelas 10. Sekolah yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka akan mendaftarkan diri karena akan ada penyesuaian pada Dapodik sekolahnya. 


Dalam penerapannya, bisa dilakukan secara bertahap. Yang pertama, mulai dari penerapan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka saja, seperti melakukan proyek, pengembangan karakter dan lain-lain, kemudian kurikulum  operasionalnya sudah mulai diterapkan. Yang kedua, langsung menerapkan perangkat-perangkat pembelajaran dengan mengambil contoh yang sudah disiapkan. Yang terakhir memodifikasi dan mengembangkan sesuai dengan keadaan satuan pendidikan masing-masing.


Implementasi Kurikulum Merdeka untuk pemulihan pembelajaran dilakukan berdasarkan beberapa kebijakan yaitu melalui Permendikbud Ristek No.5 Tahun 2022, Permendikbud Ristek no.7 tahun 2022, Permendikbud Ristek no.56 tahun 2022, Keputusan kepala BSKAP No.008/H/KR/2022 Tahun 2022, dan Keputusan kepala BSKAP No.009/H/KR/2022 Tahun 2022.


Seluruh jenjang satuan pendidikan dapat menggunakan pendekatan berbasis mata pelajaran, tematik, unit inkuiri, kolaborasi lintas mata pelajaran, ataupun paduannya sesuai dengan peraturan menteri. Siswa tidak harus mempelajari hal yang sama setiap minggu sepanjang tahun. Target jam pelajaran untuk satu tahun bisa dicapai kurang dari satu tahun.


Kurikulum Merdeka memberikan kewenangan kepada satuan pendidikan, sehingga alokasi struktur pelajarannya bisa jadi berbeda-beda, pengorganisasiannya juga bisa jadi berbeda-beda. Waktu akumulasi didesain untuk merancang proyek, untuk SD setahun dua kali. Alokasi waktu proyek sekitar 20% dari waktu mata pelajaran, lintas mapel langsung terkait profil Pelajar Pancasila. “ Sebagai contoh, bisa jadi Senin sampai Kamis pembelajaran, dan hari Jumat khusus proyek, atau 3 minggu pembelajaran, dan satu minggu khusus proyek. Bahkan dapat juga dibuat fleksibel, 4 bulan pembelajaran dan 2 bulan proyek. Durasi proyek semisal Proyek Pengelolaan Sampah dalam 6 bulan, jadi tidak terkejar-kejar. karena yang dibangun adalah karakter Profil Pelajar Pancasila, meski boleh dikaitkan dengan mata pelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator.


“Untuk PAUD, jam pelajaran di TK tetap 900 menit/minggu. Jika sebelumnya terjadi dikotomi rujukan ke Permendikbud 146 Tahun 2014 dan Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, kini langsung mengacu ke kurikulum Merdeka, kedalam capaian pembelajarannya,” ulas Dr. Yoga. “Di tingkat SD, 1 jam beban pelajaran atau sekitar 20%-nya diambil untuk proyek. Proyek tidak harus dikaitkan dengan mata pelajaran yang dipelajari, bisa dikaitkan dengan yang sedang dipelajari atau yang sebelumnya dipelajari dibolehkan,” tambahnya. Fokus proyek adalah untuk membangun karakter siswa. Penilaian proyek diantaranya mengukur karakter, kolaborasi, akhlak mulia,dan lain sebagainya. Proyek ini lintas mata pelajaran, tidak dikaitkan dengan mata pelajaran, dan sifatnya fleksibel.


Narasumber menggambarkan, beberapa perbedaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran IPA  dan IPS akan digabungkan di SD menjadi IPAS, di SMP mulai terpisah menjadi IPA dan IPS, dan di SMA mengerucut Fisika Kimia Biologi. Mata pelajaran PPKn berubah namanya menjadi Pancasila. Di SD kebaharuannya Bahasa Inggris, di SMP TIK, di SMA tidak ada lagi peminatan IPA dan IPS.


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bisa menggunakan dari contoh dengan mendownload, memodifikasi dari yang ada, atau menggunakan buatan sendiri. Contoh awal disediakan untuk memberikan bantuan bagi yang memerlukan rincian langkah-langkahnya. Jika untuk kepentingan administrasi, cukup 3 komponen sudah memadai, setiap satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan format sistematika RPP. 


Untuk pelaporan, kurikulum ini  memberikan banyak fleksibilitas teknik dan bentuk, instrumen yang digunakan. “Asesmen boleh pakai apapun, semisal dengan tes lisan cukup, tidak perlu dijabarkan sebagai pengetahuan, sikap, keterampilan. Termasuk pengolahan rapor, misal penilaian berasal dari hasil formatif 50% sumatif 50% atau 80% dan 20%, diserahkan ke satuan pendidikan, dan tidak ada KKM. Kenaikan kelas bukan berdasarkan KKM, namun berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh satuan pendidikan, semisal kriteria kedisiplinan dengan kehadiran minimal 60%. Bisa dikembangkan sesuai satuan pendidikan,” pungkas Dr. Yogi.


Dari hasil monitoring dan evaluasi penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah-sekolah penggerak, diantaranya menghasilkan beberapa koreksi dalam struktur kurikulum. Hasil monitoring evaluasi dari kajian etnografi yang melakukan pengamatan di sekolah-sekolah selama 4 bulan, dengan memantau proses pembelajaran dalam 2-3 bulan, menyampaikan bahwa proyek paling banyak dinikmati siswa. Siswa dapat mengeksplorasi sendiri dalam 6 bulan dengan kolaborasi. Dr. Yoga menambahkan, “Proyek-proyek yang dihasilkan luar biasa, malah menghasilkan wirausaha-wirausaha baru, ada yang online dan manual, desain-desain menarik (terutama SMA), paling banyak diapresiasi siswa dalam proyek. Mereka bisa menggali pemikiran sendiri, bebas eksplorasi, dan kemampuannya diluar bayangan kita. Semisal desain majalah, aplikasi seperti platform-platform, termasuk wirausaha-wirausaha baru.